Dilamar Pria Perokok, Emosian, Shalat Tidak On time, Diterima atau Tolak
Saya
ingin bertanya. Ada seorang pria yang sangat menginginkan saya menjadi
istrinya. Akan tetapi saya masih meragukan karena karakternya. Beliau
merokok, mudah emosi/tersinggung, shalatnya belum tepat waktu.
Orangtuanya sudah tahu tentang niat beliau yang bulat
ingin menikah dengan saya. Saya katakan yang sebenarnya pada ortunya
kalau saya masih kurang sreg apalagi dengan karakter beliau seperti itu.
Beliau dan beberapa teman mengatakan begini mungkin dari awal saya yang
menuntun dan bisa menjadi ladang pahala, kita tidak pernah tahu masa
depan orang.
Mungkin yang sekarang buruk besok bisa jadi malah lebih
baik. Nah... apakah sekedar keinginan kuat dari beliau itu saja sudah
cukup jadi pertimbangan? Tentang masa depan. Tidak pernah tahu.
Apakah bisa berubah atau malah harus bersabar terus hingga akhir. Jadi bagaimana menurut Ummi? Terimakasih
Jawaban:
Ukhti Shalihah, semoga Allah memudahkan dalam mengambil keputusan.
Ingat bahwa pernikahan bisa memberi dampak untuk dunia dan akhirat kita.
“Mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling mulia akhlaknya.”(HR. al-Tirmidzi)
Tentu saja setiap muslimah berharap mendapatkan pasangan hidup yang
shalih, akhlaknya bagus, dan tidak menzalimi dirinya dan orang lain,
salah satunya dengan meninggalkan rokok. Akan tetapi ketika yang datang
ternyata tidak seperti yang diharapkan, pastilah timbul keraguan.
Jauhi rasa khawatir dan ragu, mintalah petunjuk Allah berupa
kemantapan hati. Saran Ummi, lakukanlah shalat istikhoroh dengan rutin,
minta sungguh-sungguh agar Allah memberi kemantapan untuk mengambil
keputusan.
Selain itu, jangan percaya hanya pada kata-kata, keinginan kuat
hanyalah omong kosong jika tidak diikuti dengan pembuktian. Minta pada
beliau untuk berhenti merokok saat ini juga, dan melakukan shalat tepat
waktu berjamaah 5 waktu di masjid. Katakan bahwa Ukhti menginginkan
seorang suami yang tidak merokok, tidak mudah emosian, dan juga shalat
tepat waktu di masjid.
Jika ia bersungguh-sungguh ingin mengubah dirinya (nyata dibuktikan
dengan perbuatan), dan hasil istikhoroh Ukhti merujuk pada dirinya,
maka alhamdulillah Ukhti bisa dengan lapang hati menerimanya.
Akan tetapi jika ia menolak untuk berubah, Ummi khawatir menikah
dengan orang berakhlak buruk (emosian, merokok) akan membawa pada
penyesalan panjang, pikirkan lebih jauh untuk calon anak-anak kita
nantinya. Benar bahwa menikah dengan orang seperti itu bisa menjadi
ladang pahala, akan tetapi perlu diingat juga bahwa Rasulullah sekalipun
tidak bisa memberi hidayah pada orang terdekatnya, semuanya adalah hak
Allah untuk memberi hidayah.
Pikirkan masak-masak karena keputusanmu yang akan menjalaninya adalah dirimu sendiri. Bukan orang lain.
Jika memutuskan menerima keinginan pria tersebut, bersiaplah pada
konsekuensi terburuk, jika siap menerima konsekuensi tersebut, in syaa
Allah Ukhti memang sudah siap berdakwah pada pasangan hidup.
Akan tetapi jika menolak pun, pakailah cara yang paling baik, dan
tetap harus terima konsekuensinya, mungkin akan mendapat cibiran dari
keluarga dan teman-teman, tetap terimalah karena setiap keputusan memang
ada konsekuensinya. Mana konsekuensi yang paling bisa Ukhti terima.
Wallaahualam.